Lombok Tengah, TRANEWS Dua pembalap Indonesia, Mario Suryo Aji dan Veda Ega Pratama, kembali menjadi sorotan dalam ajang Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 yang berlangsung di Pertamina Mandalika International Circuit, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) Nusa Tenggara Barat, pada 9–11 Oktober 2026.
Mario tampil di kelas Moto2, sedangkan Veda berkompetisi di kelas Moto3. Di balik keberhasilan keduanya menembus kejuaraan dunia, tersimpan perjalanan panjang yang penuh pengorbanan, mulai dari latihan sejak usia dini hingga menghadapi cedera yang hampir menghentikan karier mereka.
Mario Suryo Aji mengenal dunia balap sejak kecil. Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, ia terbiasa menjalani latihan fisik sepulang sekolah. Sang ayah bahkan menyiapkan pakaian olahraga agar Mario dapat berlari pulang sebagai bagian dari pembentukan fisiknya.
Perjuangan tersebut mengantarkan Mario ke Kejuaraan Dunia Moto2. Namun, perjalanan kariernya tidak selalu berjalan mulus. Cedera berulang menjadi salah satu tantangan terbesar yang harus dihadapi pembalap Indonesia tersebut.
“Setiap tahun hampir cedera,” ungkap Mario saat menceritakan perjalanan kariernya.
Sementara itu, Veda Ega Pratama memulai karier dari dunia motocross. Pembalap asal Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, itu telah mengikuti berbagai kejuaraan nasional sejak berusia sekitar tujuh tahun.
Pada 2018, Veda mulai beralih ke balap road race nasional sebelum melanjutkan persaingan ke tingkat Asia pada 2021. Perjalanan tersebut akhirnya membawanya tampil di Kejuaraan Dunia Moto3.
Veda juga pernah menghadapi masa sulit pada 2020. Selain terhentinya kompetisi akibat pandemi Covid-19, ia mengalami patah tulang paha dan kembali mengalami patah tulang kering sekitar empat bulan kemudian.
“Di situ aku sudah seperti berpikir tidak bisa balap,” kenang Veda.
Meski demikian, dukungan keluarga dan tekad untuk mewujudkan cita-cita membuatnya kembali bangkit hingga mampu bersaing di tingkat internasional.
Di balik pencapaian tersebut, Mario dan Veda juga harus mengorbankan banyak waktu bersama keluarga dan teman-teman. Mario mengaku telah melewatkan sejumlah perayaan Lebaran bersama keluarga karena menjalani latihan dan kompetisi di luar negeri.
Hal serupa dirasakan Veda yang harus menjalani pendidikan secara daring dan kehilangan sebagian kesempatan menikmati masa sekolah seperti anak-anak seusianya.
Kehadiran keduanya dalam MotoGP Mandalika 2026 menjadi kebanggaan tersendiri bagi Indonesia. Melalui semangat Indonesian Heroes, Mario dan Veda menunjukkan bahwa prestasi di tingkat dunia membutuhkan disiplin, kerja keras, keberanian, dan ketekunan menghadapi berbagai tantangan.
Ajang balap internasional di Kabupaten Lombok Tengah ini sekaligus menjadi momentum bagi masyarakat untuk memberikan dukungan langsung kepada pembalap Tanah Air yang tengah berjuang mengharumkan nama Indonesia.
Selain memperkuat posisi Mandalika sebagai destinasi olahraga otomotif internasional, perjalanan Mario dan Veda diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia, khususnya Lombok Tengah, untuk terus mengembangkan bakat dan berani mengejar prestasi hingga tingkat dunia. (Win)








