Home / Budaya

Minggu, 18 Desember 2022 - 10:09 WIB

Ini Kiprah Sosok Budayawan Perempuan Asal Lombok Timur

Lombok Timur, Tranews.Net Tak banyak mengenal budayawan perempuan asal Dusun Kedome, Desa Ketapang Raya, Kecamatan Keruak, Lombok Timur ini. Ya, Bunda Sainah atau Sania demikian budayawan asal luar daerah di Pulau Jawa dan Sulawesi menyebutnya.

Perempuan berusia 64 tahun ini, bukan sekedar budayawan biasa. Namanya, sudah di kenal hingga ke mancanegara. Tak jarang ia di undang hingga ke Palestina bahkan Eropa.

Tidak saja mahir dalam sastra, dia bahkan memiliki darah seni dalam lukisan seni rupa yang di buat dari limbah laut seperti kerang dan pasir untuk dikomersilkan hingga ke luar negeri.

Lingkungan rumah adat, begitu dia menyebutnya nampak lebih estetis/indah oleh tangan terampilnya hanya dengan menggunakan bahan dari kerang-kerangan. Lukisan yang tengah dibuatnya pun menambah kesan makna dari setiap motif gambar yang dibuatnya.

Baca Juga :  Jelang Pergantian Tahun, Personil Kodim Loteng Mulai Amankan Kawasan Wisata Pantai

“Saya membuat lukisan ini mengalir begitu saja. Tapi yang terpenting, motif yang dibuat menggambarkan falsafah tentang adat bersendikan Syara’ dan Syara’ bersendikan kitabullah. Filosofi inilah yang utama dipegang,” ungkap Hj. Dewi Al-mukaiyyah Saddatul Qadri begitu orang-orang menyebut namanya setelah menunaikan ibadah haji.

Kehadiran sosok yang kerap dikaitkan dengan Kerajaan Selaparang ini bukan tanpa alasan. Bahkan, Eyang Putri sebutannya – mampu menguasai sejumlah bahasa dunia. Bahasa Arab salah satu bahasa yang cukup fasih diucapkan.

“Kita tanamkan ilmu agama dengan melestarikan adat istiadat kepada anak cucu kita. Agar mereka tetap berpegang teguh pada kitabullah,” pesan Bunda Sainah yang mengaku pernah mengislamkan sejumlah orang dikediamannya beberapa waktu lalu.

Seni ukir pun kata dia, tidak sekedar dipandang sebagai karya semata. Namun lebih dari itu harus dilestarikan dengan sentuhan budaya bercorak Islam dan Sasak.

Baca Juga :  Raih Rekor MURI, Bupati Pathul Apresiasi Penulis Buku Judul Dende Mandalika

Ia membantah keras jika rumah adat yang selama ini tempat berkegiatan  sebagai lokasi kegiatan ajaran sesat. Justru sebaliknya, tempat ini untuk kegiatan anak-anak usia dini lokasi mengaji.

“Banyak dari orang-orang tertentu menuduh kami rumah adat ini tempat ajang aliran sesat. Nauzubillahi mindzalik,” bantah Bunda Sainah sembari menggelengkan kepalanya.

Rumah adat ini justru sebagai tempat mendidik anak-anak untuk bersikap sopan-santun, memiliki adab dan mengajarkan ilmu-ilmu agama yang kelak dijadikan pegangan hidup.

“Lingkungan rumah adat yang penuh dengan ukir-ukiran inilah yang mungkin dianggap orang lain sebagai lokasi ajaran diluar dari kaidah agama Islam. Padahal, taman dan ukiran-ukiran itu adalah seni rupa dan hanya karya hasil dari pemanfaatan limbah yang tidak terpakai,” tandasnya. (Red.TN) .

Share :

Baca Juga

Budaya

Kapolres Dan Ketua Bhayangkari Polres Loteng Kunjungi Pos Pengamanan Lebaran

Budaya

Upacara Korps Raport, Dandim Lombok Tengah Melepas Seorang Prajurit Terbaiknya

Budaya

Pameran dan Kontes Bonsai Nasional Perebutkan Piala Bupati Loteng, 700 Bonsai Ikut Serta

Budaya

Suport MTQ di KSB Bupati Pathul Kerahkan Kekuatan Penuh

Budaya

Memasuki Tahapan Pemilu, Satgas OMB Rinjani 2023-2024 Pantau Obyek Vital Pemilu

Budaya

‎Ribuan Masyarakat Padati Tabligh Akbar Ustadz Das’ad Latif di Polres Loteng ‎

Budaya

Menteri HAM Tiba Di BIL Disambut Wagub NTB dan Wabup Loteng

Budaya

Babinsa Bantu Pengolahan Sampah Menjadi Pupuk Kompos di Desa Bonjeruk